Rabu, 13 Mei 2009


BELAJAR PRAMUKA, KENAPA TIDAK?

Oleh:

Uni Qalbarri

Melihat judul di atas, kelihatannya memang aneh. Kenapa harus belajar Pramuka? Pertanyaan ini keluar dari seorang anak ketika penulis mengajak untuk latihan Pramuka. Anehnya, tanpa hirau anak tersebut lebih memilih bermain game di warnet terdekat. Melihat fenomena yang terjadi jaman sekarang, anak-anak dengan mudahnya mengakses film tak senonoh. Bahkan tingkahlaku menyimpang lainnya pun sering dilakukan, contoh kecil bolos sekolah.

Dalam sebuah artikel/wawancara tokoh Kak Seto yang berjudul “Pusing dengan Perceraian Artis”, Professor Arief Rachman mengatakan bahwa anak butuh akhlak dan watak. Beliau melihat pendidikan di Indonesia secara umum hanya menekankan aspek kognitif (pikiran, akademis). Hal-hal yang sifatnya terukur saja. Sementara itu, soal akhlak dan watak serta hal lain yang tidak terukur, boleh dibilang ditelantarkan. Padahal kalau kita membaca tujuan pendidikan dalam Undang-Undang Pendidikan, kita bisa melihat bahwa tujuan pendidikan itu memuat juga kedua hal tersebut. Inilah yang menyebabkan bangsa ini sulit menjadi bangsa yang besar. Jika di masa anak-anak saja sudah membandel, bagaimana jika sudah dewasa nanti? Mungkin saja menjadi generasi para koruptor atau bisa saja menjadi individu yang tidak sportif dan akan merebak di berbagai dimensi kehidupan dan sikap-sikap negatif lainnya.

Berkaitan dengan pramuka, masalah di atas dapat diatasi dengan cara melibatkan sianak dalam Gerakan Pramuka. Gerakan Pramuka(praja muda karana = orang muda yang berkarya) merupakan sebuah organisasi kepemudaan yang didirikan dengan maksud memberikan pembinaan generasi muda yang menggunakan prinsip dasar kepramukaan dan metode kepramukaan. Gerakan Pramuka ini membina dan mendidik anak-anak dan pemuda Indonesia dengan tujuan untuk; menciptakan generasi bangsa yang kreatif dan mandiri serta memiliki wawasan yang luas sebagai sumber daya masusia yang berwatak dan berbudi luhur, serta menjadi warga Negara republik Indonesia yang berjiwa Pancasila, setia pada Negara kesatuan republik Indonesia, serta berupaya menjadikan manusia yang suci dalam pikiran perkataan dan perbuatan dalam kehidupannya sehari-hari.

Sebagai wadah pembinaan generasi muda, pramuka secara aktif berpatisipasi dalam masalah-masalah pembangunan yang mendambakan kesejahteraan lahir dan batin bagi seluruh bangsa Indonesia. Semua anggota Gerakan Pramuka menerima prinsip-prinsip pendidikan yaitu pertama, bahwa pendidikan berlangsung sepanjang hayat (long life education) dan , bahwa terdapat empat sendi, ‘sokoguru’ atau pilar pendidikan, yaitu belajar mengetahui (learning to know) belajar berbuat (learning to do), belajar hidup bersama, hidup bersama orang-orang lain (learning to live together, to live with others), dan belajar menjadi seseorang (learning to be )

Melalui proses pendidikan yang efektif, efisien, dan produktif diusahakan dapat membantu setiap anggota Gerakan Pramuka agar berkembang menjadi agent of change, menjadi pelopor (bukan pengekor), menjadi pembaharu yaitu selalu menilai tentang masa lalu, memandang ke masadepan, serta mengantisipasi hal-hal yang akan terjadi dan menyusun, merencanakan kemudian melaksanakan berbagai program pada masa kini untuk meraih cita-cita dan tujuan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara. Misalnya membangun masyarakat madani (civil society), masyarakat adil-makmur, material-spiritual berdasarkan Pancasila.

Jika di atas dikemukakan tiga buah sasaran pendidikan, maka sasaran pertama adalah pengetahuan dan informasi fungsional diusahakan meraihnya melalui pengajaran (teaching), sasaran kedua adalah keterampilan yang relavan melalui pelatihan (training), dan sasaran ketiga adalah sikap mental pembaharuan dan pembangunan melalui bimbingan (guidance) dan keteladanan (by example).

Dari ketiga sasaran pendidikan tersebut, hal yang mudah untuk dilaksanakan adalah pengajaran termasuk memberikan kuliah, ceramah, dan sebagainya. Sebaliknya, hal yang sulit pada hakikatnya adalah upaya bimbingan dan keteladanan serta penanaman, pemupukan dan pengembangan sikap mental pembaharuan dan pembangunan. Hal ini sangat erat hubungannya dengan nilai-nilai yang menentukan berhasil tidaknya pendidikan.

Usaha memotivasi peserta didik agar belajar dengan sunggu-sungguh sepanjang hayat, termasuk kedalam pendidikan nilai. Perlu kita sadari, bahwa pada hakikatnya Gerakan Pramuka juga bergerak dalam bidang pendidikan. Sehingga dibutuhkan kesungguhan yang luar biasa untuk mempersiapkan generasi muda dalam mengembangkan nilai-nilai kehidupan yang akan dijadikan bekal untuk mengarungi kehidupan. Dalam hal ini, Gerakan Pramuka memiliki kode kehormatan atau dapat juga disebut kode etik dalam bentuk janji dan ketentuan moral.

Salah satu kode kehormatan bagi Pramuka Siaga (berusia 7-10 tahun) dalam bentuk janji yang disebut Dwisatya Pramuka yang berbunyi “Demi kehormatanku aku berjanji akan bersungguh-sungguh: -menjalankan kewajibanku terhadap Tuhan, Negara Kesatuan Republik Indonesia dan mengikuti tatakrama keluarga; -setiap hari berbuat kebajikan. Sedangkan dalam bentuk ketentuan moral disebut Dwidarma Pramuka yang berbunyi: (1) Siaga berbakti kepada ayah bundanya. (2) Siaga berani dan tidak putus asa.

Nilai-nilai di atas hendaknya dibiasakan sejak dini agar menjadi pedoman tingkahlaku sehari-hari. Sehingga mereka kelak tidak akan canggung dalam menghadapi tantangan masa depan, bahkan tantangan tersebut dapat dijadikan kesempatan baru. Tentu hal ini dilaksanakan sesuai dengan usia anak serta kemampuan fisik-mental-spiritual dan sosial-emosional mereka masing-masing.

Untuk mengakhiri tulisan ini kiranya perlu ditegaskan bahwa jika kita menggunakan istilah pendidikan, maka perbuatan-perbuatan baik yang teungkap di dalam proses maupun produk pendidikan itu haruslah yang ‘etis-religius baik’. Itu berarti nilai-nilai menanam, memupuk dan mengembangkannya di dalam peserta didik anggota Gerakan Pramuka adalah agama, yaitu ajaran-ajaran Tuhan Yang Maha Esa yang tertulis dalam kitab suci masing-masing. Di samping agama, kebudayaan juga sering dibataskan sebagai sistem nilai. Ingat perumpamaan nenek-moyang agar kita ‘saling asah, saling asih, saling asuh’ dan merupakan nilai yang perlu ditanam, dipupuk dan dikembangkan di dalam diri setiap manusia khususnya anggota Gerakan Pramuka.

AYAH..,MAAFKAN AKU

Cerpen: Uni Qalbarri

Dak…dik…duk…jantungku menunggu hasil perjuanganku selama seminggu. Betapa tidak, berlari sejauh 1 km, push up dengan jari sebanyak 25 kali, sit up sebanyak 30 kali dan gerakan lainnya yang berkenaan dengan tetek bengek Climbing yang lebih dikenal dengan panjat tebing. Gerakan tersebut aku lakukan selama TC (Training Center) berlangsung. Sekitar lima menit jantungku berdetak dak dik duk, pelatih 021 pun memanggilku. Dengan langkah yang agak gemetar aku menghampirinya. Doa pun mulai membisikkan hatiku, ya Allah…aku tau Kau Maha Mengetahui, Mendengar dan Melihat, bahkan belum lahirpun aku telah Engkau tentukan nasibku. Ya Rahman…izinkanlah aku untuk membahagiakan orang-orang di sekitarku, berikanlah aku kesempatan untuk menjadi yang terdepan. Hanya kepadaMu lah aku memohon. Amien.

N’Ceb…!!!tersentak aku terkejut, jangan-jangan aku tidak terpilih, ucapku dalam hati.

N’Ceb...! panggil lagi pelatihku. “Selamat ye…ente terpilih untuk mewakili Kab. Landak”, ujarnya dengan nada semangat. Betapa bahagianya aku mendengar berita yang keluar dari salah satu pelatihku itu. Awalnya aku kurang percaya bahwa aku yang akan terpilih, hanya dengan modal semangat berlatih, keyakinan yang begitu kuat dan diiringi dengan doa, aku dapat mengalahkan peserta TC lainnya untuk mewakili daerah yang bukan tempat kelahiranku.

Ahkirnya aku terpilih sebagai atlit panjat tebing yang akan bergengsi dalam Kejuaraan Daerah (KEJURDA) Federasi Panjat Tebing Indonesia (FPTI) di Ketapang. Kabar gembira inipun aku sampaikan pada keluargaku di kampung lewat handphone buntut yang kuberi nama Jack. Dengan penuh semangat aku sampaikan pada keluargaku. Waktu itu kakakku yang menerima kabar tersebut. Kegembiraanku bertambah plus-plus sebab kakakku sangat mensuport berita tersebut. Kuakhiri pembicaraanku dan aku bergegas menuju ransel Eigerku untuk berkemas menuju Ketapang. Kuambil pakaian faforitku bernuansa rasta merah kuning hijau made in Jamaica. Sendal jepitku si Marley yang siap menemani langkahku, dan sal kesayanganku si Bob yang selalu menghangatkan leherku setiap shalat subuh. Sekitar satu jam aku berbenah dan aku lanjutkan dengan berhayal telah berhasil menaklukan lawanku di dinding panjat tebing dan tak terasa sampai tidur pulas.

Kriiiiiing...kriiiiiing....suara nada dring Jack mengejutkanku. Aku terperanjat histeris dan ternyata kakaku memanggilku,

“ada pa ya?”Tanyaku dalam hati.

“Hallo Assalamu’alaikum, ade ape ka’...?”, tanyaku. “Pa’ usu (panggilan kesayanganku), bapak tadak setuju kau ikut lomba’ panjat tebing ke Ketapang. Bapak takot kau ade ape-ape nanti”, tegas kakakku.

Belum sempat aku bertanya kembali, handphoneku si Jack ngedrop ibarat anak kecil yang belum makan. Karena memang dari pagi aku belum sempat memberi si Jack sarapan lewat chager yang selalu ku pinjam dengan teman sekamarku. Rasa kantukku hilang seketika. Aku terdiam dan berpikir, kenapa ayahku tidak setuju dengan keberangkatanku? Bukankah seharusnya ia bangga dan bahagia mendengar anaknya yang kecil ini berangkat ke luar daerah. Bermacam-macam pertanyaan keluar dalam pikiranku. Apa yang harus aku lakukan? Mendengarkan perkataan kakaku atau tetap melanjutka perjuanganku? Ku coba menenangkan diriku dengan sebatang rokok L.A yang ada dikantong celanaku. Ku hisap dan kutarik dalam-dalam sehingga asapnya mengepul di sekeliling kamarku. Dengan emosi yang kuat aku tetap memutuskan untuk berangkat ke Ketapang dan mengikuti kompetisi KEJURDA FPTI tersebut.

Keesokan harinya, kapal Feri tujuan Pontianak Ketapang pun siap untuk mengantarku menuju “kejuaraan”. Ku langkahkan kakiku menuju no kursi yang ada dalam tiketku. Upss...no 19 cewek dan aku di no 18, asyik sudah seminggu aku tidak di ganggu ma cewek, kataku dalam hati. Permisi cewek, numpang lewat ya..!,akupun duduk dengan santai. Di sela santaiku, aku teringat kembali dengan perkataan kakakku kemarin. Rasa resah, gelisah mulai menghampiriku.

“Bang...bang...ko’ ngelamun? Ngga’ sehat lo ngelamun dalam kapal”..! gurau cewek sebelah bangkuku.

“Oh...tidak hanya terpesona dengan kancing bajumu yang unik”, balasku.

“Aku Wiwik perwakilan dari FPTI Kab. Bengkayang, abang siapa?” Tanya dia. “ “Ehm...Perkenalkan Enceb dari FPTI Kab. Landak.”

Banyak sekali yang kami bicarakan, dari masalah latihan ketika TC, persiapan sebelum berangkat dan pengalaman-pengalaman lainnya. Tak terasa senda gurau kami dapat menghilangkan rasa resah yang mengacaukan pikiranku.

Para penumpang terhormat, kapal sebentar lagi akan berlabuh harap persiapkan barang-barang anda, suara pemandu kapal yang keluar dari pengeras suara pas di atas kepalaku. Aku, wiwik dan penumpang lainnya pun sibuk menyiapkan barang kami masing-masing. Sesampai di luar kapal, kami para peserta KEJURDA FPTI KALBAR disambut meriah oleh panitia. Dengan menggunakan bis full AC kami di antar menuju Hotel berbintang tempat para kontingen KEJURDA FPTI menginap selama kompetisi berlangsung.

Ah...kumanjakan badanku di atas kasur empuk yang ada di ruangan full AC. Aku tertidur pulas, dan terkejut karna ada ayahku di ruangan sambil terdiam menatapku. Ku coba menghampirinya sambil melangkah dan diiringi suara azan merdu. Aku tersentak terkejut ternyata itu mimpi. Kembali aku teringat pada pesan kakaku. Berdosakah aku? Akan kah ayah memaafkanku? Aku tidak mau tercatat sebagai anak yang durhaka kepada orang tua. Aku hanya ingin membuat mereka bangga. Pusiiiiing...teriakku dalam hati. Kembali aku menenangkan diriku dengan berwudhu dan segera shalat ashar. Setelah sholat dan berdoa, aku mengenakan pakaian latihan menuju lapangan yang tidak jauh dari hotel. Lari-lari kecil sebagai pemanasan dan senam jari sebagi pendinginnya.

Tiba saatnya pembukaan acara Kejuaraan Daerah Federasi Panjat Tebing Indonesia Kalimantan Barat. Bupati Ketapang membuka langsung dengan pesan terus majukan olahraga Indonesia, khususnya Panjat Tebing. Singkat kata, kompetisipun dimulai. Peserta asal Kab. Kapuas Hulu dengan semangat memanjat sebagai giliran pertama. Beberapa saat sebelum giliranku, Jack handphone ku berdering, kubaca SMS yang isinya tentang ayahku. Ternyata sudah dua hari ayahku masuk rumah sakit di ruangan ICU Soedarso. Konsentrasiku merayau lagi, alhasil ketika giliranku manjat tidak sesuai targetku. Kecewa campur sedih menyatu dalam pikiranku. Memang benar kata orang, nasehat orang tua tidak boleh dilanggar. Karna hasil yang didapat seperti yang aku alami sekarang.

KEJURDA FPTI pun usai, aku terburu-buru pulang ke Pontianak untuk menjenguk ayahku. Sesampaiku di ruangan ICU, kumelihat ayahku terbaring dengan selimut putih seakan-akan rata dengan kasur. Wajahnya yang kering kurus ditambah lagi dengan selang dihidung dan impus yang sangat merubah kegagahannya. Tak terasa air mataku mengalir dengan sendirinya. Dengan mulut yang begetar, aku memanjatkan doa kepada sang kholik, “Ya Allah...ampunilah dosaku dan dosa kedua orang tuaku, ,,,,jadikan lah amal kebaikan ku sebagai pengahapus dosa itu, dan jadikanlah penyakit yang kau coba kepada ayahku ini sebagai penghapus dosanya. Sesungguhnya hanya Engkaulah penghapus segala dosa,,,Amien”. Ayah, mulai sekarang akau akan mendengarkan perkataanmu, aku tidak akan mengulangi kesalahan ini untuk kedua kalinya. Ayah, maafkan aku ya...!